Counterterrorism Info

Another Info on Counterterrorism

About Jamaah Islamiyah

Posted by ajurajer on January 25, 2008

Berbeda dengan Hizbut Tahrir yang memiliki tujuan untuk mendirikan Khilafah global, maka Jamaah Islamiyah (JI) hanya menginginkan pendirian Khilafah Nusantara yang bersifat transnasional namun keduanya sama-sama mengabaikan nation-state. Menurut Umar Abduh (pemerhati gerakan Islam yang juga mantan napol kasus Imran, Cicendo dan Woyla serta penulis buku Al Zaytun) Jamaah Islamiyah (JI) kini pecah jadi tiga faksi, yaitu faksi ideologis dengan figur sentral Abu Rusydan, faksi moderat dengan tokoh Abu Bakar Ba`asyir, dan faksi teroris dengan pentolan Hambali.  Faksi Rusydan dinilai konsisten dengan visi awal Abdullah Sungkar.    

Di tahun 2008 ini, Sidney Jones memprediksi JI sedang berupaya untuk mensterilkan dan mengkonsolidasikan barisannya.  Kelompok-kelompok baru tampaknya terbentuk seiring dengan banyaknya pada pemimpin JI yang ditangkap, ketidakpuasan dengan organisasinya serta banyaknya sumber referensi yang dapat digunakan untuk melakukan pembinaan.  Meskipun belum jelas kelompok mana yang akan menggunakan buku tersebut namun setidaknya buku yang mengekploitir jihad tersebut  akan menjadi bahan tambahan bagi penyeru jihad termasuk JI. Salah satu buku terjemahan tersebut adalah tulisan Abu Mus’ab al-Zarqawi, pemimpin al-Qaidah asal Yordania dan gurunya al-Maqdisi.  Pengaruh gagasan-gagasan itu tentunya tidak cukup kuat kecuali telah ada orang yang mengajarkannya melalui proses mentoring.  Buku terjemahan lainnya adalah tulisan para tokoh-tokoh sudah meninggal seperti pemimpin kelompok Jamaah Islamiah di Mesir yang bernama Mohammad al-Farraj dan Abdul Qadir bin Abdul Aziz.  

Beberapa pemimpin JI telah tertangkap antara lain Abu Rusdan alias Thoriquddin alias Hamzah, 47 tahun, guru madrasah di Kudus, Jawa Tengah. Dia menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Surakarta dan lulus pada tahun 1983. Latar belakang pengangkatan Abu Rusdan di JI, terjadi setelah Ba’asyir menduduki posisi Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Agustus 2000. Kesibukan Ustadz Abu memimpin dua organisasi membuat markaziah merasa perlu mengangkat seorang Pelaksana Tugas Amir dan ia terpilih dalam rapat Markaziah di Bogor. Abu Rusdan memimpin setiap rapat markaziah, termasuk di Tawangmangu, Jawa Tengah, pada Oktober 2002 hingga tertangkap pada 23 April 2003  sejak tanggal 30 April 2003 dia ditahan di Mabes Polri.  Dia dituduh menyembunyikan Ali Ghufron alias Mukhlas, pelaku bom Bali I. Dia divonis penjara 3,5 tahun, namun diselesaikan dalam dua tahun. Ia tercatat sebagai angkatan ke-2 peserta pelatihan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda, Pakistan.  Ia seangkatan dengan Mukhlas,  terpidana bom Bali I dan Mustafa, Ketua Mantiqi III JI  sebelum Nasir Abas (angkatan ke-5). Zarkasih dan Abu Dujanah yang ditangkap awal Juni 2007, termasuk dalam faksi Rusydan.  Mereka tidak sepakat dengan aksi pemboman di sembarang tempat atas nama jihad.   

Adapun Abu Dujana alias (Yusron alias Aenul Bahri sebutan di keluarga) alias Mahfud alias Abu Irsyad alias Nuaim yang disebut sebagai gembong terroris  nomor satu  tertangkap di Banyumas (pukul 11.30 WIB pada 9 Juni 2007). Namun banyak yang menilai bahwa penangkapan Abu Dujana tidak membawa pengaruh pada kekuatan Jamaah Islamiyah (JI). Hal itu disebabkan JI bukan hanya organisasi teroris tapi punya jaringan sosial dan ekonomi yang masih berfokus pada dakwah dan pengembangan organisasi.  Abu Dujana, pernah menjabat sekretaris JI pada 1998, dikenal sebagai administratur ulung dan  dikenal rapi dan nyaris tidak pernah meninggalkan jejak. Namanya mulai terkuak sejak Bom Bali I pada 2002. Pada tahun 1998 beberapa nama tokoh senior JI antara lain Muchlas dan Abu Fatih.   Kepolisian menyebutkan sebelum bom meledak, Dujana bertemu Muchlas, otak serangan dan Zulkarnaen pimpinan laskar militer JI. Disinyalir Doktor Azahari dan Noordin M. Top pernah berkonsultasi dengan Dujana sebelum membom Hotel JW Marriott, Jakarta. Abu Dujana disebut sebagai pimpinan sayap militer JI menggantikan Zulkarnaen. Tulisannya yang diedarkan berjudul Manual Kecil untuk Mujahidin Kota, yang juga memuat persiapan melaksanakan aksi teror. Dalam struktur JI, Dujana membawahi Sarwo Edi, salah satu kepercayaan Abu Dujana, dan Akhyas. Sarwo Edi ditangkap awal April 2007 dan pertama kali bertemu dengan Abu Dujana saat pelatihan militer di Filipina dan kedua kalinya sepulang dari sana pada tahun 2005. Penangkapan Abu Dujana mendapatkan pujian dari Amerika Serikat dan Australia.  

Pada hari yang sama 9 Juni 2007 pukul 17.00 Satuan Tugas (Satgas) Polri juga telah menangkap Mbah alias Zarkasih alias Zaenudin aka Irsjad aka Oni aka Nuai. Pria berkaca mata minus yang disebut sebagai amir atau pimpinan darurat Jamaah Islamiyah (JI) dalam penggerebekan di Yogyakarta.  Menurut Kepala Satgas Antiteror Polri Brigjen Pol Suryadarma Salim, Mbah (45) adalah atasan Abu Dujana dan lebih berbahaya dibanding Abu Dujana.  Organisasi pimpinan Mbah memiliki empat sayap (Pendidikan, Dakwah, Perbekalan dan Militer)  dan Abu Dujana adalah memimpin sayap militer.  Beberapa petugas yang memiliki peran penting dalam penangkapan tersebut adalah Kabareskim Komjen Pol Bambang Hindarso Danuri dan Kepala Divisi Humas Irjen Pol Sisno Adiwinoto. Mbah diduga terlibat dalam pengiriman dan mengatur bahan peledak, senjata api baik yang ada di Pulau Jawa maupun di Poso, Sulawesi Tengah termasuk mengirim Abu Fatih Abu Fatih untuk mengendalikan di Poso secara langsung. Mbah juga menerima uang hasil rampokan milik Pemda Poso sebesar Rp400 juta untuk dipakai dalam peledakan bom di Poso.  Secara pengalaman, Mbah pernah mengikuti pelatihan militer di kamp Saddah, Pakistan, pada 1997 dimana ia menduduki peringkat kedua, sedangkan peringkat satu adalah Nasir Abbas yang mantan tokoh JI dan kini sudah keluar dan pernah menulis buku mengenai jaringan JI. Pada 1998, Mbah menjadi instruktur di kamp Militer Mindanao, Filipina.  Pada 2004, ia terpilih menjadi amir darurat JI menggantikan Andung. Berturut-turut pemimpin JI adalah (alm) Abdullah Sungkar (1993-2003), Abu Bakar Bashir (2000-2002), Abu Rusdan (2002-2003) dan Adung (2003-2005), dan Mbah.   

Akhir-akhir ini, Kepolisian daerah (Polda) Jawa Tengah tengah mengantisipasi rencana pelaksanaan eksekusi terhadap tiga terpidana mati kasus bom Bali I, Amrozi, Imam Samudera aka Abdul Aziz, dan Ali Gufron alias Mukhlas yang kini mendekam di LP Batu Nusakambangan Kabupaten Cilacap. Mereka menolak salinan putusan Mahkamah Agung tentang penolakan Peninjauan Kembali (PK) kasus mereka yang diserahkan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar melalui PN Cilacap pada 2 Januari 2008. Sehubungan dengan kemungkinan permintaan grasi Abu Bakar Basyir menyatakan bahwa bahwa haram hukumnya untuk mengajukannya, artinya sama hal dengan menghalangi mereka memperoleh kehidupan atau sengaja untuk menjadikannya mereka untuk membangkitkan semangat Jihad di kalangan pengikut lainnya ?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: